| 0 comments ]

Menurut Drs. H. Muslim, M.Pd. salah seorang Pengawas SMA Provinsi Sumatera Selatan, bahwa peserta didik SMA/MA banyak yang mengeluhkan sulitnya soal UNBK, terutama pada Matematika sangat sulit, belum dipejari, soal tidak sesuai kaidah menyusunan soal, kalimat/perintah soal tidak jelas, teks soal itu bersifat ambigu.

Mengapa demikian? Siapa yang bertanggung jawab? Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) seolah menjadi tumpahan keluhan dari peserta didik dan orangtua.

Menanggapi hiruk pikuk ini, KPAI mendorong Kemendikbud untuk melaksanakan evaluasi secara transparan karena hal ini dianggap malparaktik evaluasi pendidikan dan menimbulkan ketidakadilan bagi peserta UNBK.

Selanjutnya Soal Drs. H. Muslim, M.Pd. menuturkan bahwa ujian nasional (UN) adalah penilaian hasil belajar bukan seleksi. Penilaian hasil belajar memiliki prinsip terpadu, artinya penilaian merupakan komponen yang tidak terpisahkan dari pembelajaran, untuk mengukur ketercapaian. Karena itu, penilaian tidak boleh terlepas apalagi menyimpang dar pembelajaran.

Jika materi soal belum dipelajari peserta, ini salah siapa? Sekarang soal UNBK Matematika itu bandingkan dengan daftar Kompetensi Dasar (KD) yang dikeluarkan Kemdikbud. Jika semua materi soal merujuk ke KD, artinya kekeliruan berada di sekolah.

Akan tetapi, jika materi soal tidak sesuai dengan KD, artinya penyusunan soal melanggar prinsip terpadu. Awal Januari 2018, Kemdikbud telah mengeluarkan blueprint soal (yang merujuk ke daftar KD) yang dapat diunduh di internet oleh siapa saja.

Blueprint soal itu berisi kompetensi yang akan diuji dilihat dari cakupan materi dan level kognitifnya (level 1, 2, dan 3). Soal disusun harus sesuai dengan blueprint ini.

Guru kreatif akan membedah blueprint ini, menurunkannya ke dalam indikaor soal, lalu indikator soal dibuatkan soalnya dengan berbagai variasi. Kemudian, soalnya diujicobakan. Hasil ujicoba ditelaah untuk memetakan kekuatan dan kelemahan peserta didik. Jika ini yang dilakukan, mungkin yang dikeluhkan tidak akan muncul.

Kalau guru atau sekolah tidak juga mengunduh blueprint itu, bukankah memang seharusnya guru mengajar bertolak dari KD-KD yang sudah ditetapkan.

Lalu, apabila soal memang melenceng dari blueprint yang dikeluarkan Kemdikbud, perlu ditelusuri apakah penyusunan soal mengikuti prosedur penyusunan soal, mulai dari menyusun kisi-kisi pengembangan soal, menyusun soal, dan menelaah soal dari aspek kualitatif.

Kisi-kisi disusun berdasarkan blueprint, sementara soal disusun berdasarkan kisi-kisi. Kemudian, sebelum soal dirakit menjadi paket soal, soal-soal harus lebih dahulu ditelaah dari aspek kualitatif dengan aspek materi, konstruksi, dan bahasa. Kemudian jika penelaah menemukan soal tidak sesuai indikator maka soal itu harus diperbaiki atau diganti.

Jika tahapan tersebut dilalui, tidak mungkin muncul yang soal tidak sesuai KD, tidak sesuai kaidah penyusunan, perintah soal tidak jelas, dan teks soal itu bersifat ambigu atau multitafsir.

Terkait sulitnya Soal UNBK SMA/MA Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy telah menyampaikan permintaan maaf tentang kesulitan selama pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) 2018. Beliau berjanji membenahi masalah tersebut untuk pelaksanaan UNBK tahun depan.

Muhadjir mendapat kritik terkait pelaksanaan UNBK SMA pada 10 hingga 13 April 2018. Di antaranya soal pertanyaan sulit dan tak sesuai pelajaran di sekolah.

"Soal itu, saya meminta maaf kalau ada beberapa kalangan yang merasa kesulitan yang tak bisa ditoleransi," ungkap Muhadjir usai menemui Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla di Istana Wapres Jakarta, Jumat, 13 April 2018.

Muhadjir berjanji membenahi masalah tersebut. Namun ia memohon warga memaklumi masalah itu. Sebab, pemerintah tengah mengejar peningkatan mutu dan kualitas pendidikan.

Kualitas pendidikan Indonesia, lanjut Muhadjir, masih lebih rendah ketimbang negara-negara di kawasan Asia, bahkan Asia Tenggara. Kemendikbud tengah memperbarui sistem pendidikan untuk meningkatkan standar kualitas ujian nasional.

Berbekal hasil survei Programme for International Student Assessment (PISA), ujar Muhadjir, tingkat kualitas siswa Indonesia tergolong rendah. PISA merupakan sistem ujian dari Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD) untuk mengevaluasi sistem pendidikan dari 72 negara di seluruh dunia.

"Karena sesuai hasil PISA, kita sangat rendah. Ketika PISA rendah, kami (Kemendikbud) disalahkan, tapi ketika kami menaikkan standar membuat siswa sulit, kami juga salah. Tapi saya rasa kita terus mendorong anak-anak kita semakin berkualitas dengan meningkatkan standar ujian nasional kita," jelas Muhadjir.

Editor :
- Ir. Dedi Suharto
- Drs. Asep Rusmana D, S.H.


Sumber:
- tribunnews.com
- metrotvnews.com

0 comments

Post a Comment